Rabu, 11 Maret 2009

LILI MARLEEN GERMAN WORDS
words provided by Jill Daniels Wartime Entertainer
Hans Leip 1915


1. Vor der Kaserne
Vor dem großen Tor
Stand eine Laterne
Und steht sie noch davor
So woll'n wir uns da wieder seh'n
Bei der Laterne wollen wir steh'n
Wie einst Lili Marleen. Wie einst Lili Marleen

2. Unsere beide Schatten
Sah'n wie einer aus
Daß wir so lieb uns hatten
Das sah man gleich daraus
Und alle Leute soll'n es seh'n
Wenn wir bei der Laterne steh'n
Wie einst Lili Marleen. Wie einst Lili Marleen.

3. Schon rief der Posten,
Sie blasen Zapfenstreich
Das kann drei Tage kosten
Kam'rad, ich komm sogleich
Da sagten wir auf Wiedersehen
Wie gerne wollt ich mit dir geh'n
Mit dir Lili Marleen. : Mit dir Lili Marleen.

4. Deine Schritte kennt sie,
Deinen zieren Gang
Alle Abend brennt sie,
Doch mich vergaß sie lang
Und sollte mir ein Leids gescheh'n
Wer wird bei der Laterne stehen
Mit dir Lili Marleen? Mit dir Lili Marleen?

5. Aus dem stillen Raume,
Aus der Erde Grund
Hebt mich wie im Traume
Dein verliebter Mund
Wenn sich die späten Nebel drehn
Werd' ich bei der Laterne steh'n
Wie einst Lili Marleen. Wie einst Lili Marleen.
Lili Marleen
By anjar widianto

Bisa dikatakan ini adalah lagu paling legendaris dan hampir disukai oleh seluruh orang pada masanya bahkan sudah banyak dibuat versinya dalam beberapa bahasa, kabarnya sampai 48 bahasa, kenapa bisa begitu?

Awal cerita bermula saat Hans Leip (1893-1983) seorang serdadu Jerman pada Perang Dunia I hendak berangkat ke medan perang Rusia pada tahun 1915, dia membuat sebuah puisi yang judulnya memakai nama dua orang wanita yaitu Lili (temannya yang anak seorang tukang sayur) dan Marleen, seorang perawat muda yang ia temui saat sedang berperang. Puisi ini kemudian diterbitkan bersama puisi-pusis lain karyanya pada tahun 1937. Seorang komposer bernama Norbert Schultze tertarik untuk membuat lagu dari puisi itu. Maka jadilah sebuah lagu berjudul "Lili Marleen".

Lagu ini kemudian direkam dan dinyanyikan oleh Lale Andersen tepat sebelum Perang Dunia II (1939-1945) berlangsung. Lagu ini cuma laku 700 keping kopi pada penjualannya. Lagu ini merupakan salah satu lagu yang digunakan untuk menyemangati tentara Jerman saat PD II, namun Joseph Goebbels (Menteri Propaganda Jerman saat PD II) tidak menyukai lagu ini, karena dianggap kurang bersemangat dan kurang patriotik, dia menginginkan sebuah lagu mars perjuangan. Akhirnya lagu in kurang begitu populer.

Ketika Jerman menginvasi Yugoslavia dan berhasil mendudukinya, mereka mendirikan sebuah stasiun radio untuk menyebarluaskan berita, terutama kepada tentaranya yang berada di sekitar Laut Tengah (termasuk salah satunya adalah Deutsche Afrika Korps). Tetapi saat itu Leutnant Karl-Heinz Reintgen, selaku kepala stasiun radio di Beograd, Yugoslavia kekurangan bahan-bahan siaran, jadi dia memerintahkan anak buahnya pergi ke Wina, Austria (wilayah Jerman yang paling dekat dengan Beograd) untuk mengambil "apapun yang bisa jadi bahan siaran". Dari Wina anak buahnya itu membawa banyak piringan hitam, salah satunya adalah si Lili Marleen. Kemudian disiarkanlah lagu-lagu tersebut ke seluruh penjuru Laut Tengah.

Salah satu medan perang yang dilakoni oleh tentara Jerman pada PD II adalah di gurun-gurun Afrika Utara, yaitu Deutsche Afrika Korps (DAK) yang sangat tersohor namanya dengan komandannya yang namanya bahkan jauh lebih terkenal daripada DAK sendiri, dianggap sebagai Jenderal terhebat yang pernah Jerman punyai yaitu Generaal FeldMarschaal Erwin Rommel dimana bersama Italia mereka berperang melawan Inggris dan negara-negara Commonwealth-nya (Australia, New Zealand, India, dan Afrika Selatan). Di kamp-kamp di tengah gurun atau di balik tank mereka, di mana mereka beristirahat atau berjaga-jaga inilah mereka mendengarkan siaran radio Jerman di Beograd itu, hampir semua lagu-lagu yang disiarkan tidak begitu menarik perhatian mereka kecuali Lili Marleen, dikarenakan oleh iramanya yang lembut, menenangkan dan sedikit menggoda ditambah dengan suara Lale Andersen yang cocok sekali untuk menyanyikan lagu tsb.

Ternyata bukan hanya tentara Jerman yang menjadi fans Lili Marleen, tetapi juga tentara Italia, bahkan serdadu Inggris sekalipun. Jadi ternyata pihak Inggris pun dapat menerima siaran radio Jerman dari Beograd. Bahkan saat lagu ini diputar banyak tentara yang meminta untuk dikeraskan volume radionya, "Louder please, louder" teriak mereka pada tentara yang bertugas mengoperasikan radio. Saking mengidolakan Lili Marleen, sampai-sampai mereka tidak tertarik pada siaran radio perang dari Inggris, bahkan mereka sampai berkata "Can BBC make a broadcast that as half-good as this Nazis can did?". BBC pun menerima banyak kritikan karena dianggap tidak mampu "berperang" melawan pihak propaganda Jerman yang "meluncurkan" senjata ampuhnya yaitu "Lili Marleen". Lalu pihak BBC dan pihak pimpinan Tentara Inggris berkesimpulan untuk membuat sesuatu yang mampu meladeni Lili Marleen. Mereka mendiskusikan untuk apakah membuat sesuatu yang baru atau hanya mengganti liriknya saja. Entah tidak mampu atau memang sudah tidak keburu waktu mereka akhirnya memutuskan untuk mengganti lirik Lili Marleen, jadi kini Lili Marleen pun menjadi seorang wanita Inggris bernama Lily Marlene. Lagu versi Inggris ini dinyanyikan oleh penyanyi Inggris bernama Anne Shelton. Ya di tengah dentuman meriam dan rentetan peluru tentara Inggris dan Jerman masih bisa berbagi keceriaan bersama saat mereka mendengarkan Lili Marleen walaupun mereka saat itu saling berhadapan. Tapi medan perang gurun Afrika Utara bukanlah akhir dari "karir" Lili Marleen, kiprah Lili Marleen terus menanjak di medan perang lainnya setelah Afrika Utara, bahkan pada saat perang lagu ini dikenal di seluruh Eropa serta Amerika Utara (AS dan Kanada) bahkan jadi "hits".

Salah satu momen paling indah yang berhubungan dengan lagu ini adalah saat Jerman kalah oleh Inggris dan Amerika di Tunisia, sekaligus mengakhiri peperangan di Afrika Utara, yaitu ketika tentara anggota Deutsche Afrika Korps tertawan dan berbaris menuju kamp tawanan, di jalan mereka berpapasan dengan serdadu Inggris dari Tentara Kedelapan Inggris (British Eight Army) yang akan menuju Tunis. Saat itu tentara Jerman berjalan sambil menyanyikan lagu favorit mereka. Suara mereka bersahut-sahutan dengan tentara Inggris yang juga menyanyikan lagu favorit mereka pula. Walaupun lirik dan kata-katanya berbeda tapi yang mereka nyayikan adalah lagu yang sama

Vor der Kaserne, Vor dem großen Tor, Stand eine Laterne, Und steht sie noch davor ....
Underneath the lantern, By the barrack gate, Darling I remember, The way you used to wait ...

Referensi

* War without Hate: The desert campaign 1940-1943, John Bierman & Colin Smith
* http://ingeb.org/Lieder/lilimarl.html
* http://www.rhs51.com/lillimarlene.htm
* http://en.wikipedia.org/wiki/Lili_Marleen

Kamis, 05 Maret 2009

Dewi Lestari - Malaikat Juga Tahu

Lelahmu jadi lelahku juga

Bahagiamu bahagiaku pasti

Berbagi takdir kita selalu

Kecuali tiap kau jatuh hati


Kali ini hampir habis dayaku

Membuktikan padamu ada cinta yang nyata

Setia hadir setiap hari

Tak tega biarkan kau sendiri

Meski seringkali kau malah asyik sendiri


Karena kau tak lihat terkadang malaikat

Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan

Namun kasih ini silakan kau adu

Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya


Hampamu tak kan hilang semalam

Oleh pacar impian

Tetapi kesempatan untukku yang mungkin tak sempurna

Tapi siap untuk diuji

Kupercaya diri.. Cintakulah yang sejati


Namun tak kau lihat terkadang malaikat

Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan

Namun kasih ini silakan kau adu

Malaikat juga tahu siapa yang jadi juaranya


Kau selalu meminta tuk terus kutemani

Engkau selalu bercanda andai wajahku diganti

Relakan ku pergi.. Karna tak sanggup sendiri


Namun tak kau lihat terkadang malaikat

Tak bersayap tak cemerlang tak rupawan

Namun kasih ini silakan kau adu

Malaikat juga tahu.. Aku kan jadi juaranya



Koleksi Dewi Lestari yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Dewi Lestari - Malaikat Juga Tahu
Busby Seo Test

Kotak - Masih Cinta

Intro : A E F#m 2x

E C#m

Tik,.,tik,.,.tik

F#m B

Waktu berdetik

G#m C#m A B

Tak mungkin bisa ku hentikan

E C#m F#m B

Maumu jadi mauku

G#m C#m A B

Pahitpun itu ku tersenyum


A B G#m C#

Kamu tak tahu rasanya hatiku

F#m B E

Saat berhadapan kamu


E C#m

Tik,.,tik,.,.tik,.,.

F#m B

Air mataku

G#m C#m A B

Biar terjatuh dalam hati

E C#m F#m B

Mau ku tak penting lagi

G#m C#m A B

Biar ku buat bahagiamu


A B G#m C#

Kamu tak tahu rasanya hatiku

F#m B E

Saat berhadapan kamu

A B G#m C#

Kamu tak bisa bayangkan rasanya

F#m Am B A

Jadi diriku, yang masih cinta


interlute : A G#m F#m 2x B


A B G#m C#

Kamu tak tahu hancurnya hatiku

F#m B E

Saat berhadapan kamu

A B G#m C#

Kamu tak bisa bayangkan rasanya

F#m Am B E

Jadi diriku, yang masih cinta


Code : F#m A D



Koleksi Kotak yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Kotak - Masih Cinta
Busby Seo Test

Saras Dewi - Lembayung Bali

Menatap lembayung di langit Bali

Dan kusadari betapa berharga kenanganmu

Di kala jiwaku tak terbatas

Bebas berandai memulang waktu


Hingga masih bisa kuraih dirimu

Sosok yang mengisi kehampaan kalbuku

Bilakah diriku berucap maaf

Masa yang tlah kuingkari dan meninggalkanmu

Oh cinta


Teman yang terhanyut arus waktu

Mekar mendewasa

Masih kusimpan suara tawa kita

Kembalilah sahabat lawasku

Semarakkan keheningan lubuk


Hingga masih bisa kurangkul kalian

Sosok yang mengaliri cawan hidupku

Bilakah kita menangis bersama

Tegar melawan tempaan semangatmu itu

Oh jingga


Hingga masih bisa kujangkau cahaya

Senyum yang menyalakan hasrat diriku

Bilakah kuhentikan pasir waktu

Tak terbangun dari khayal keajaiban ini

Oh mimpi


Andai ada satu cara

Tuk kembali menatap agung surya-Mu

Lembayung Bali



Koleksi Saras Dewi yang lain.
Mp3 Download & Lirik Lagu Saras Dewi - Lembayung Bali
Busby Seo Test

Rabu, 04 Maret 2009

1.625 Siswa Kelas 4-6 SD Jabotabek Sudah Pernah Nonton Materi Porno

Temuan Yayasan Kita dan Buah Hati dengan 1.625 siswa kelas 4-6 SD di Jakarta Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, pernah menyaksikan materi seks

Hidayatullah.com--Pernyataan ini disampaikan Ketua Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman, dalam seminar bertema Memahami Dahsyatnya Kerusakan Otak Anak akibat Kecanduan Pornografi dan Narkoba dari Tinjauan Kesehatan Intelegensia, Senin (2/3), di auditorium Departemen Kesehatan, Jakarta.

"Banyak orang tua tidak tahu harus berbuat apa ketika anaknya mogok sekolah, mulai kelas lima sekolah dasar sampai sekolah menengah atas karena main games, tak henti-hentinya," kata Elly Risman menegaskan. Hampir tiap hari ada saja berita tentang anak dan remaja berbuat mesum dan foto bugil yang ditayangkan di televisi maupun dinikmati rekan sebaya mereka.

Dalam Pertemuan Konselor Remaja Yayasan Kita dan Buah Hati dengan 1.625 siswa kelas 4-6 sekolah dasar wilayah Jakarta Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, tahun 2008 terungkap, 66 persen dari mereka telah menyaksikan materi pornografi lewat berbagai media. Sebanyak 24 persen di antaranya lewat komik, 18 persen melalui games, 16 persen lewat situs porno, 14 persen melalui film, dan sisanya melalui VCD dan DVD, telepon seluler, majalah dan koran.

Mereka umumnya menyaksikan materi pornografi itu karena iseng (27 persen), terbawa teman (10 persen), takut dibilang kuper (4 persen). Ternyata anak-anak itu melihat materi pornografi di rumah atau kamar pribadi (36 persen), rumah teman (12 persen), warung internet (18 persen), rental (3 persen).

"Kalau kita jumlahkan yang melihat di kamar pribadi dan di rumah teman, berarti satu dari dua anak melihatnya di rumah sendiri," ujarnya.

Sementara hasil survei yang dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia tahun 2007 lalu menunjukkan, sebanyak 97 persen dari responden pernah menonton film porno, sebanyak 93,7 persen pernah ciuman, petting, dan oral seks, serta 62,7 persen remaja yang duduk di bangku sekolah menengah pertama pernah berhubungan intim, dan 21,2 persen siswi sekolah menengah umum pernah menggugurkan kandungan.

Kondisi ini terjadi karena mereka sudah terpapar pada pornografi sejak belia, kata Elly menegaskan. Dari pertemuan Yayasan Kita dan Buah Hati dengan puluhan ribu orang tua di 28 provinsi ketika seminar, pihaknya menemukan rata-rata hanya 10 persen dari para orang tua yang bisa menggunakan peralatan atau permainan canggih yang mereka belikan untuk anak-anak mereka.

Apalagi belakangan ini banyak situs internet dengan nama yang tidak terkait dengan materi seks ternyata mengandung materi pornografi. Beberapa dari situs itu bahkan menggunakan nama tokoh kartun yang digemari anak-anak seperti Naruto, serta memakai istilah nama hewan seperti lalat atau nyamuk yang biasanya dibuka anak-anak itu ketika mengerjakan tugas sekolah.

Mereka umumnya tidak tahu dampak negatif video terhadap kerusakan otak anak. "Kita berada dalam kultur abai pada anak sendiri. Di sisi lain, kita semua belum menganggap bencana pornografi itu sama pentingnya dengan masalah flu burung, HIV/AIDS, narkoba, dan penyakit-penyakit menular lainnya," ujarnya menambahkan.

Maka dari itu, ia mengajak agar para orang tua lebih terlibat dalam pengasuhan anak-anak mereka sejak belia baik ayah maupun ibu. Kurangnya peran ayah dalam pengasuhan anak pada usia dini, khususnya pada anak lelaki, mengakibatkan terputusnya jembatan komunikasi antara orang tua dan anak. Hal ini membuat banyak anak memilih mencari informasi dari luar rumah yang bisa jadi malah menjerumuskan mereka dalam dunia pornografi.

Pemerintah juga harus meningkatkan pengawasan terhadap peredaran materi pornografi. "Antara lain dengan membatasi atau memblokir situs-situs internet pornografi, menerapkan regulasi yang ketat terhadap video games terutama yang mengandung materi tidak edukatif atau berbau pornografi," kata Elly menegaskan. [kcm/www.hidayatullah.com]

Kampanye Antimerokok Justru Dilanggar Dokter

Pemerintah China mulai kesal. Kampanye antimerokok yang dilakukan ternyata tidak didukung sebagian besar dokter laki-laki di negara itu yang dikenal sebagai perokok. Menteri Kesehatan China Chen Zhu, seperti dikutip China Daily, Selasa (3/3), menuturkan, sekitar 56,8 persen dari dokter laki-laki di China adalah perokok.

”Ini jumlah tertinggi di dunia,” ujar Zhu tanpa merinci jumlah dokter laki-laki yang merokok. Oleh karena itu, Zhu meminta para dokter laki-laki ini agar segera meninggalkan kebiasaan merokok sehingga bisa menjadi contoh bagi warga untuk meninggalkan kebiasaan merokok.

Dokter yang sulit meninggalkan kebiasaan ini ditawari konsultasi kesehatan agar bisa meninggalkan kebiasaan yang tak sehat itu. China dengan jumlah penduduk 1,2 miliar dikenal sebagai penghasil rokok terbesar di dunia.

Tercatat ada 320 juta perokok di China yang membuat industri rokok tumbuh subur setiap tahunnya. Harga rokok di China juga termasuk yang termurah di dunia, hanya beberapa sen dollar AS atau hanya ribuan rupiah. Karenanya, para dokter laki-laki diminta segera meninggalkan kebiasaan merokok sehingga dapat menjadi contoh nyata seruan hidup sehat dengan tidak merokok.


Sumber : http://internasional.kompas.com/read/xml/2009/03/04/07193487/kampanye.antimerokok.justru.dilanggar.dokter

Soekarno, Megawati, dan Islam (3)

Sebab itulah, Soekarno merumuskan doktrin perjuangan politiknya sebagai Marhaenisme, yakni Marxisme yang telah di-Indonesiakan, suatu prinsip perjuangan yang mencita-citakan sosialisme Indonesia. Tujuan dari prinsip ini adalah mensejahterakan seluruh rakyat Indonesia yang berkeadilan dan mandiri, lepas dari campur tangan kaum imperialisme. Marhaenisme jelas bertentangan dengan salah satu pokok Marxisme yaitu pertentangan kelas. Dalam Marhaenisme, semua kekuatan dan komponen bangsa harus bersatu untuk mewujudkan cita-cita sosialisme Indonesia. Inilah cikal bakal dari Nasakom.

Pokok ajaran Soekarnoisme yang kedua adalah Revolusi Indonesia yang memiliki dua tahapan: Pertama, tahapan revolusi borjuis nasional dan kemudian tahapan revolusi sosialisme Indonesia.

Dalam tahapan pertama, kaum Marhaen bersama kaum proletar harus bisa bersatu-padu dengan kaum borjuis nasional—sisa-sisa feodalis lama—untuk berjuang bersama-sama menghancurkan kekuasaan kolonialisme dan imperialisme asing yang telah menjajah Indonesia demi memerdekakan negara dan bangsa Indonesia dahulu. Sebab itulah, tahap pertama revolusi nasional mencapai kemerdekaan disebut sebagai “Jembatan emas menuju kemerdekaan.”

Tahap kedua, setelah merdeka, maka barulah tahap kedua dari revolusi Indonesia dilakukan yakni memerdekakan seluruh anak bangsa dari kemiskinan dan kebodohan. Tahap ini dikenal dengan istilah “Nation and Character Building”.

Pokok-pokok Soekarnoisme bisa diringkas menjadi beberapa point, yakni:

  • Persatuan dan kesatuan seluruh elemen bangsa,
  • Prinsip berdikari dalam mengelola kekayaan alam bangsa yang berarti tidak tergantung pada kekuatan asing (Kekuatan kolonialisme dan imperialisme Barat),
  • Pembangunan karakter bangsa guna menghapus perasaan minder (minderwaardigheid-complex) yang telah ditanamkan ratusan tahun oleh penjajah asing sehingga bangsa Indonesia memiliki kebanggaan sebagai orang Indonesia dan setara sebagai warga dunia.

Hubungan dengan Islam

Soekarno merupakan satu-satunya presiden sebuah negara di dunia yang menyatakan jika dirinya meninggal maka jenazahnya ditutupi dengan bendera Muhammadiyah, bukan bendera negara. Seperti yang dikatakannya dalam “Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” (Cindy Adams).

Walau demikian, hubungan antara Soekarno dengan tokoh-tokoh Islam mengalami putus-sambung yang cukup sering intensitasnya.

Soekarno muda mendapat gemblengan prinsip-prinsip politik dari seorang tokoh Syarikat Islam bernama H. O. S. Tjokroaminoto. Buku Tjokroaminoto yang ditulis pada tahun 1924 berjudul “Islam dan Sosialisme” (Diterbitkan oleh PN. Bulan Bintang, 1951), merupakan salah satu inspirator bagi Soekarno dan titik awal bagi pandangan Islam Sosialistiknya. Menurut Soekarno, Islam merupakan sebuah ideologi perjuangan yang sama sekali tidak akan pernah akur dengan kapitalisme, sebab kapitalisme hanya bisa hidup jika berjalan di atas rel penindasan manusia terhadap sesama manusia lainnya dalam bentuk “The Surplus Value” dalam sistem kerjanya atau bisa disamakan dengan Riba. Kapitalisme hanya bisa hidup jika kaum Pemodal (Kaum Pengusaha) menghisap kaum pekerja (Buruh) dan juga kaum Marhaen lainnya (Wong Cilik).

Pada 29 Desember 1929, Soekarno bersama sejumlah tokoh PNI (Partai Nasional Indonesia) ditangkap dan dijebloskan ke penjara Banceuy, Bandung. Oleh Belanda, mereka dianggap teroris yang tengah merencanakan makar untuk menggulingkan pemerintahan Belanda. Dalam pengadilannya, Agustus 1930, Soekarno menyampaikan pembelaannya (Pledoi) yang amat terkenal berjudul “Indonesia Menggugat”.

Pokok dari pledoi Soekarno adalah membongkar habis-habisan Anggaran Pembelian dan Belanja pemerintahan kolonial Belanda yang dikecamnya sangat pro investor asing dan kian memiskinkan rakyat. Soekarno dibebaskan pada 31 Desember 1931.

Pada Agustus 1933, Soekarno ditangkap untuk kedua kalinya, kemudian dibuang ke Ende, Flores. Di sinilah periode kehidupan Soekarno yang sarat persinggungannya dengan Islam. Di Ende, Soekarno melahap banyak buku-buku keislaman dan banyak berdiskusi dengan tokoh-tokoh setempat maupun surat-menyurat dengan sejumlah tokoh Islam nasional seperti HM. Natsir. Pemikiran Soekarno tambah terasah dengan Islam dan kian meneguhkan pandangan Soekarno jika Islam sangat anti terhadap kapitalisme karena sifat penindasan dan penghisapannya.

Dari Ende, Soekarno diasingkan ke Bengkulu, 1938. Di Bengkulu ini Soekarno kembali berjumpa dengan tokoh-tokoh Islam setempat dan berdiskusi dengan mereka. Salah satu tokoh Muhammadiyah di Bengkulu yang sering diajak berdiskusi mengenai Islam adalah H. Hasan, ayah dari Siti Fatimah, yang kemudian anaknya diperisteri Soekarno dan berganti nama menjadi Fatmawati. Saat itu, Inggit Ganarsih yang telah diperisteri Soekarno ketika di Bandung menolak untuk dimadu dan akhirnya cerai.

Pada tahun 1942 Soekarno kembali ke Pulau Jawa dan disambut rakyat sebagai pemimpin pergerakan nasional Indonesia. Di zaman pendudukan Jepang, Soekarno dengan dukungan dari para pemimpin Islam seperti H. Agus Salim dan tokoh nasionalis Jawa seperti Ki Hadjar Dewantara, memilih bersimbiosis-mutualisme dengan Jepang. Pilihan ini pilihan sangat sulit. Namun kondisi riil politik internasional, dimana Fasisme Jepang (dibantu oleh Fasisme Italia dan Nazi Jerman) tengah berperang melawan Imperialisme Sekutu (termasuk Belanda) dalam Perang Dunia II, menyebabkan Soekarno mengambil langkah ini. Sikap kooperatif Soekarno terhadap Jepang menimbulkan antipati banyak kalangan. Sutan Syahrir yang lebih dekat dengan Amerika Serikat menuding Bung Karno sebagai Kolaborator Jepang.(bersambung/rd)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/soekarno-megawati-dan-islam-3.htm


Soekarno, Megawati, dan Islam (2)

Marhaenisme, diakui sendiri oleh Soekarno adalah sintesa daripada filsafat Marxisme (Materialisme-Historis dan Materialisme-Dialektis), Islam, dan Nasionalisme. Soekarno sangat teguh memegang prinsipnya ini hingga berpuluh tahun kemudian menyodorkan konsep Nasakom (Nasionalis, Agama, dan Komunis) bagi pola pemerintahannya.

Abad di mana Soekarno lahir dan tumbuh adalah abadnya bangsa-bangsa selatan bangkit melawan penghisapan yang dilakukan imperialisme negara-negara utara. Sebab itu, salah satu obsesi seorang Soekarno adalah menghapuskan penindasan yang dilakukan oleh manusia terhadap manusia lainnya. Exploitation de l’homme par l’homme. Untuk mampu mengusir penjajah Belanda yang telah menghisap kekayaan negeri ini sejak abad ke-16 M, maka seluruh komponen bangsa ini harus bersatu-padu melawan penjajahan. Sebab itu, sejak muda Soekarno terobsesi untuk bisa menggalang persatuan dan kesatuan bangsa ini di atas segalanya. Prinsip ini terus dipegangnya hingga ke liang lahat.

Salah satu episode dalam sejarah bangsa ini telah membuktikan betapa persatuan dan kesatuan dipegang teguh oleh seorang Soekarno. Saat itu, menyusul tragedi subuh 1 Oktober 1965, kekuasaan Soekarno sedikit demi sedikit dilucuti oleh Jenderal Suharto. Lewat berbagai intrik dan konspirasi dengan CIA, sejumlah perwira angkatan darat di bawah Suharto secara terselubung maupun terang-terangan telah bersikap membangkang terhadap Soekarno yang saat itu masih sah sebagai Presiden dan Panglima Tertinggi Angkatan Perang. Hal ini membuat geram sejumlah kesatuan lain yang masih loyal pada Soekarno. Salah satu kesatuan yang dikenal sangat loyal pada Panglima Tertingginya adalah Marinir. “Putih kata Bung Karno, putih kata marinir. Hitam kata Bung Karno, hitam pula kata marinir!”, demikian tegas Panglima Marinir Mayjen (Mar) Hartono.

Pertengahan Maret 1966, Jenderal Marinir Hartono ini menghadap Bung Karno dan meminta izin agar pasukannya diperbolehkan memukul habis kekuatan Jenderal Suharto. Beberapa Batalyon dikatakan juga bersedia membantu seperti Kodam Brawijaya dan beberapa kesatuan dari AURI dan Kepolisian.

Namun permintaan ini ditentang Soekarno dengan mengatakan antara lain jika Soekarno tahu jika dirinya tengah dihabisi. “Biarlah Soekarno tenggelam sendirian asal bangsa dan negara Indonesia tetap hidup. Saya tidak mau terjadi peperangan saudara yang merobek-robek persatuan yang saya bangun selama ini,” tegasnya.

Dan sejarah pun mencatat bahwa Soekarno meninggal dalam status tahanan rumah dalam rezim fasis Jenderal Suharto. Mayjen (Mar) Hartono sendiri dibuang dengan mendubeskan dia ke Pyongyang, Korea Utara. Tokoh Marinir yang sangat pemberani dan loyal kepada Bung Karno ini ditemukan tewas ditembak kepalanya pada pagi hari, awal Januari 1971, di Jakarta. Banyak kalangan menganggap keterangan pemerintah Suharto yang menyatakan Hartono bunuh diri adalah bohong belaka. Rekannya sesama tokoh Marinir saat itu, Ali Sadikin, menegaskan jika kematian Hartono diliputi kemisteriusan. Banyak yang menduga Jenderal (Mar) Hartono menjadi korban konspirasi jahat rezim Jenderal Suharto.

Pokok-Pokok Soekarnoisme

Sejak kecil Soekarno telah berkenalan dengan ide-ide besar dari orang-orang besar di seluruh dunia dari kerakusannya membaca buku. Di usia 25 tahun, dalam Suluh Indonesia Muda (1926), terbit sebuah artikelnya yang berjudul “Nasionalistis, Islamistis, dan Marxistis”. Di dalam artikelnya ini, Soekarno menyatakan, “Bukannya kita mengharap, yang Nasionalis itu supaya berobah paham menjadi Islamis atau Marxis, bukannya maksud kita menyuruh yang Marxis dan Islamis itu berbalik menjadi Nasionalis, akan tetapi impian kita ialah kerukunan, persatuan antara ketiga golongan itu.”

Artikel tersebut ditulis Soekarno sebagai bentuk keprihatinannya melihat pecahnya Syarikat Islam “Putih” pimpinan Agus Salim dengan Syarikat Islam “Merah” yang dipimpin Semaun yang kemudian bekerjasama dengan tokoh-tokoh ISDV—partai sosialis Belanda—seperti Snevliet dan Baars. Syarikat Islam Merah ini kemudian menjadi “Syarikat Rakyat”, lalu berubah menjadi Partai Komunis Indonesia.

Di tahun 1926-1927, saat berjalan-jalan di wilayah Bandung selatan, di pematang-pematang sawahdi Cigareleng, Soekarno bertemu dengan seorang petani penggarap bernama Marhaen. Keduanya kemudian terlibat tanya jawab sederhana.

“Pak Marhaen, cangkul yang bapak pegang itu punya siapa,” tanya Soekarno.

“Milik saya,” jawab Marhaen.

“Lalu sawah yang bapak kerjakan itu milik siapa?”

“Milik orang lain,” jawabnya lagi.

Dalog singkat ini telah memahat kesan yang sangat mendalam di otaknya. Dalam ilmu teori Materialisme Historis, orang seperti Marhaen tidak bisa dikategorikan sebagai proletar, karena masih menguasai alat produksi walau itu hanya sepotong cangkul. Dalam teori Marxisme, seorang proletar adalah seseorang yang bekerja semata-mata mengandalkan tenaga. Sedang alat-alat produksinya dan juga tempatnya bekerja dikuasai oleh pemilik modal. Sebab itu, Pak Marhaen tidak bisa dikategorikan sebagai proletar. Maxisme malah memandang Pak Marhane sebagai petite borguise atau Borjuis kecil, walau Pak Marhaen hidupnya pas-pasan.

Walau menguasai alat produksi, namun Marhaen ternyata hidupnya juga miskin dan tertindas. Sebab itu, Soekarno merasa Marxisme dalam bentuk yang murni tidaklah tepat untuk menilai kondisi riil di Indonesia saat itu. (bersambung/rd)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/sekarno-megawati-dan-islam-2.htm


Soekarno, Megawati, dan Islam


Setelah memaparkan apa adanya tentang Jenderal Suharto, maka kini kita akan membahas Soekarno, tokoh bangsa yang memiliki segudang kontradiksi di dalam dirinya. Soekarno adalah seorang yang besar, siapa pun tidak akan menyanggah hal itu. Demi menggapai impian memerdekakan negeri dan bangsanya, Soekarno rela menghabiskan 25 tahun kehidupannya di dalam penjara kaum penjajah. Dia juga bukan tipe pemimpin yang korup, sesuatu yang membuatnya sangat berbeda dengan sosok Jenderal Suharto. Walau demikian, sebagai seorang manusia biasa, Soekarno juga memiliki sejumlah catatan buruk yang tidak boleh diulang oleh generasi penerus bangsa ini.

Diakui atau tidak, di mata rakyat kecil, nama Soekarno masihlah harum. Sebab itu, walau Soekarno telah wafat puluhan tahun silam, namun sampai sekarang masih saja banyak orang yang ‘memperalat atau menunggangi’ kebesarannya demi menggapai ambisi pribadi dan juga kelompoknya. Dari yang mengaku sebagai titisan Soekarno, seperti yang dilakukan oleh pemimpin aliran sesat Satrio Piningit yang menyita perhatian publik nasional awal Februari lalu, sampai dengan ‘tradisi’ seorang Megawati Soekarnoputeri yang selalu memajang foto atau gambar Bung Karno sebagai latar belakang foto dirinya.

Apa yang diperbuat Megawati adalah suatu hal yang sesungguhnya wajar, karena secara biologis, Megawati memang adalah anak kandung Soekarno dari isterinya yang bernama Fatmawati. Namun fakta sejarah telah menunjukkan jika klaim tersebut hanya cukup sampai di situ, karena secara prinsip politik dan ekonomi, kebijakan yang diambil Megawati ternyata malah bertolak-belakang dengan prinsip-prinsip politik dari seorang Soekarno.

Untuk memaparkan apa adanya tentang Soekarno, kesamaan dan perbedaan antara Soekarno dengan Megawati, juga kaitannya dengan Islam dan umat Islam Indonesia dalam perjalanan sejarah bangsa ini, maka tulisan ini dibuat berseri. Mudah-mudahan, hal ini bisa dijadikan ibrah bagi kita semua.

HOS Tjokroaminoto, Awal Pergerakan

Soekarno dilahirkan di Lawang Seketeng-Surabaya, 6 Juni 1901, dari pasangan Ida Ayu Noman Rai—seorang perempuan berdarah bangsawan Bali—dan Raden Soekemi Sosrodihardjo, juga seorang ningrat dari Jawa Timur. Walau demikian, kehidupan keduanya tidak bisa dibilang makmur, malah serba berkekurangan. Sebab itu, Soekarno kecil yang bernama Kusno Sosrodihardjo mengaku jika masa kecilnya lebih banyak dihabiskan untuk membaca buku ketimbang bermain dengan teman sebaya yang mampu membeli petasan dan sebagainya.

DI masa kecil, keluarga Kusno pindah dari Surabaya ke Sidoardjo sebentar dan kemudian menetap di Mojokerto, Jawa Timur. Usia 14 tahun , Kusno masuk ke Hoogere Burger School (HBS), setingkat SLTP, dan menumpang (bahasa Jawa: Ngengger) di rumah HOS Tjokroaminoto, Ketua Syarikat Islam (SI). Saat ngengger di rumah itulah, Soekarno berkenalan dengan arus pergerakan nasionalisme Indonesia. HOS Tjokroaminoto banyak kedatangan tamu-tamu sesama aktivis pergerakan nasional di rumahnya, berdiskusi tentang berbagai perkembangan politik dan ekonomi bangsanya, berkeluh-kesah tentang kian rakusnya imperialis Belanda dan juga Barat menghisap kekayaan alam Nusantara, membahas kehidupan rakyat kecil yang kian sengsara, semua itu didengar oleh Soekarno remaja.

Soekarno juga melihat dengan mata kepala sendiri kesewenang-wenangan penjajah Belanda terhadap HOS Tjokroaminoto. Di tahun 1915, tersiar berita jika HOS Tjokroaminoto menerima sejumlah uang dari kaki-tangan Jerman untuk menggulingkan pemerintahan kolonial Belanda. Polisi rahasia Belanda (PID) mengirim salah seorang agennya bernama Agus Salim untuk mencari tahu kebenaran berita tersebut dengan mengutusnya untuk mendekati HOS Tjokroaminoto. Agus Salim pun masuk Syarikat Islam.

Dari berbagai informasi yang masuk ke telinga PID inilah, HOS Tjokroaminoto yang dijuluki Raja Jawa Tanpa Mahkota ini dipanggil berkali-kali ke kantor PID untuk diinterogasi. Namun disebabkan bukti yang ada sangat kurang, maka kasus ini pun berakhir begitu saja. Lain halnya dengan Agus Salim. Pemuda Minangkabau yang cerdas ini malah tertarik untuk benar-benar bergabung dengan Syarikat Islam yang memperjuangkan Indonesia Merdeka dan keluar dari PID. Kisah tentang Agus Salim ini bisa dibaca di memoar Agus Salim sendiri berjudul “Benarkah Saya Seorang Spion?”.

Di antara murid-murid politik HOS Tjokroaminoto, terdapat tiga orang yang menonjol. Mereka adalah Soekarno, Muso, dan Kartosuwiryo. Kelak, ketiganya merupakan pelopor bagi ideologi pergerakan di Indonesia. Muso menjadi pemimpin gerakan komunisme (PKI), Kartosuwiryo menjadi pemimpin pergerakan Islam (DI), dan Soekarno memimpin pergerakan nasionalisme, dengan mencoba merangkum tiga aliran pergerakan besar di Indonesia menjadi Nasakom (Nasionalisme, Agama, dan Komunisme).

Setelah melahap banyak buku dan berdiskusi dengan banyak aktivis pergerakan, Soekarno menyimpulkan jika musuh besar bagi bangsa Indonesia adalah imperialisme dan kolonialisme, yang dilakukan negara-negara utara terhadap negara-negara selatan. Dengan pisau bedah Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis, yang memang sangat tajam mengurai tentang kejahatan kapitalisme, Soekarno merumuskan paham gerakan politiknya sendiri yang kemudian dikenal sebagai “Marhaenisme”. Dalam suatu kesempatan, Soekarno menyatakan jika Marhaenisme adalah Marxisme yang di-Indonesiakan.(bersambung/rd)

Sumber : http://www.eramuslim.com/berita/tahukah-anda/sekarno-megawati-dan-islam.htm

Keunggulan Pariwisata Manado dengan 4 B

KOTA Manado memang menarik untuk dinikmati para turis domestik dan mancanegara. Memang dalam bebarapa hal pariwisata Manado bisa kalah dibandingkan Bali, tapi ada beberapa ikon penting tidak dimiliki Bali, tapi justru ada di Manado seperti Bunaken dan “Bibir”.


Banyak hal yang dapat kita jual, tapi keunggulan kita ada pada Bunaken dan Bibir. Saya harus mengklarifikasi dulu kata yang terakhir ini, karena selama ini B satu ini telah disalahgunakan, bahkan Manado telah mendapat stereotip bahwa turis dengan mudah mendapatkan bibir nona Manado. Dengan kata lain bibir nona Manado telah dianggap “gampang diajak”. Streeotip ini juga telah menjadi tarif para “pelacur” yang cantik di berbagai daerah dan mengaku bahwa saya orang Manado sekali pun sebenarnya bukan orang Manado. Sayang nona - nona Manado sudah terlanjur dinilai “negatif” karena kecantikannya dan warna kulitnya.

Saya terus terang sedih dan keberatan. Event - event penting yang bebarapa kali diselenggarakan di Manado tahun ini, saya dengar melalui Radio dan membaca di koran, orang - orang Manado sendiri tidak merasa “marah” ketika plesetan itu ditujukan kepada anak - anak kita, “enaknya bibir Manado”, “mudah dibooking” dan seterusnya. Padahal kita dikenal di seluruh daerah di Indonesia bahwa orang Manado juga orang religius. Khususnya bagi kebanyakan keturunan suku Minahasa, utukeke, dikenal dengan keKristenannya. Sadar atau tidak, suka atau tidak, orang bisa memberi kesan bahwa keKristenan melegalkan gaya hidup seperti bahasa stereotip tadi.


Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengintrospeksi diri dulu, melakukan pertobatan mendasar pada perilaku hidup agama kita dan membangun kembali jati diri kita, tetapi tetap menampilkan keunggulan - keunggulan kita di bidang pariwisata, termasuk keunggulan, Boulevard, Bunaken dan Bibir tadi. Bibir ini adalah anugerah Tuhan pencipta yang patut kita syukuri. Mari kita kelola SDM orang - orang Manado ini, nona - nona dan nyong - nyong untuk terus berkompetisi dalam segala bidang. Memang kita sangat laku dalam event - event “hiburan”, idol - idol dan segala macam pemilihan “putri” karena kita memang menang tampang, tapi jauh lebih penting mari kita juga kedepankan, bahwa orang Manado tidak kalah juga “smart” nya, supaya kita tidak lagi mendapat “stereotip” baru, bahwa orang manado cuma menang tampang.


Hai orang Manado, mari kita trus jaga diri, urus diri bae - bae, supaya torang tetap cantik dan ganteng, tapi jangan lupa juga bangun “inner beauty” dan intelegensi kita. Beking bagus trus torang pe kalakuan dan isi trus itu otak dengan banyak membaca buku ilmu pengetahuan, bukan komik, supaya ke depan kita semakin sejajar dengan masyarakat dunia yang mengglobal dan kita tidak tergilas karena kalah bersaing.


Kiranya pemerintah dan tokoh - tokoh agama dalam rangka menuju 2010 tahun pariwisata, akan memberi perhatian lebih serius pada peningkatan SDM nona - nona dan nyong - nyong Manado, supaya kita tidak hanya unggul di bibir atau tampang, tapi juga kita unggul dalam moral dan intelegensi. Benar kata tokoh - tokoh pemerintah kita, bahwa selain 4 B ( Bunaken, Bubur Manado, Bibir dan Boulevard ) di atas, kita juga ketambahan 2 B lagi yakni : Selain Beauty ( = bibir) , ada Behaviour dan Brain. Pakailah bibir yang dikendalikan oleh otak yang smart dan hati yang bermoral. Tebarlah senyuman yang khas untuk menarik para turis, jadilah guide yang ramah menjual bibir yang manis, jadilah biro travel yang memamerkan bibir yang yang menawan, jadilah bibir - bibir yang cerdas yang menjual keunggulan B lainnya seperti : Bunaken, Bisnis Boulevard, Bubur Manado, Bagea, Biapong, Bunga, Batik Bentenan, Bola kaki. Semoga oleh pergaulan seperti itu, nona dan nyong Manado lebih dikenal dan akhirnya semakin banyak menjadi duta di dunia internasional karena “bibir dan brainnya”, sehingga menarik lebih banyak turis datang di Manado yang akhirnya menambah tingkat kesejahteraan hidup masyarakat.


Pdt Arthur R Rumengan MTeol,
Pengamat Sosial - Agama dan Dosen Fakultas Teologi UKIT

sumber : http://www.hariankomentar.com/arsip/arsip_2007/feb_15/opini02baca.html