Rabu, 04 Maret 2009

Keunggulan Pariwisata Manado dengan 4 B

KOTA Manado memang menarik untuk dinikmati para turis domestik dan mancanegara. Memang dalam bebarapa hal pariwisata Manado bisa kalah dibandingkan Bali, tapi ada beberapa ikon penting tidak dimiliki Bali, tapi justru ada di Manado seperti Bunaken dan “Bibir”.


Banyak hal yang dapat kita jual, tapi keunggulan kita ada pada Bunaken dan Bibir. Saya harus mengklarifikasi dulu kata yang terakhir ini, karena selama ini B satu ini telah disalahgunakan, bahkan Manado telah mendapat stereotip bahwa turis dengan mudah mendapatkan bibir nona Manado. Dengan kata lain bibir nona Manado telah dianggap “gampang diajak”. Streeotip ini juga telah menjadi tarif para “pelacur” yang cantik di berbagai daerah dan mengaku bahwa saya orang Manado sekali pun sebenarnya bukan orang Manado. Sayang nona - nona Manado sudah terlanjur dinilai “negatif” karena kecantikannya dan warna kulitnya.

Saya terus terang sedih dan keberatan. Event - event penting yang bebarapa kali diselenggarakan di Manado tahun ini, saya dengar melalui Radio dan membaca di koran, orang - orang Manado sendiri tidak merasa “marah” ketika plesetan itu ditujukan kepada anak - anak kita, “enaknya bibir Manado”, “mudah dibooking” dan seterusnya. Padahal kita dikenal di seluruh daerah di Indonesia bahwa orang Manado juga orang religius. Khususnya bagi kebanyakan keturunan suku Minahasa, utukeke, dikenal dengan keKristenannya. Sadar atau tidak, suka atau tidak, orang bisa memberi kesan bahwa keKristenan melegalkan gaya hidup seperti bahasa stereotip tadi.


Karena itu, mungkin sudah saatnya kita mengintrospeksi diri dulu, melakukan pertobatan mendasar pada perilaku hidup agama kita dan membangun kembali jati diri kita, tetapi tetap menampilkan keunggulan - keunggulan kita di bidang pariwisata, termasuk keunggulan, Boulevard, Bunaken dan Bibir tadi. Bibir ini adalah anugerah Tuhan pencipta yang patut kita syukuri. Mari kita kelola SDM orang - orang Manado ini, nona - nona dan nyong - nyong untuk terus berkompetisi dalam segala bidang. Memang kita sangat laku dalam event - event “hiburan”, idol - idol dan segala macam pemilihan “putri” karena kita memang menang tampang, tapi jauh lebih penting mari kita juga kedepankan, bahwa orang Manado tidak kalah juga “smart” nya, supaya kita tidak lagi mendapat “stereotip” baru, bahwa orang manado cuma menang tampang.


Hai orang Manado, mari kita trus jaga diri, urus diri bae - bae, supaya torang tetap cantik dan ganteng, tapi jangan lupa juga bangun “inner beauty” dan intelegensi kita. Beking bagus trus torang pe kalakuan dan isi trus itu otak dengan banyak membaca buku ilmu pengetahuan, bukan komik, supaya ke depan kita semakin sejajar dengan masyarakat dunia yang mengglobal dan kita tidak tergilas karena kalah bersaing.


Kiranya pemerintah dan tokoh - tokoh agama dalam rangka menuju 2010 tahun pariwisata, akan memberi perhatian lebih serius pada peningkatan SDM nona - nona dan nyong - nyong Manado, supaya kita tidak hanya unggul di bibir atau tampang, tapi juga kita unggul dalam moral dan intelegensi. Benar kata tokoh - tokoh pemerintah kita, bahwa selain 4 B ( Bunaken, Bubur Manado, Bibir dan Boulevard ) di atas, kita juga ketambahan 2 B lagi yakni : Selain Beauty ( = bibir) , ada Behaviour dan Brain. Pakailah bibir yang dikendalikan oleh otak yang smart dan hati yang bermoral. Tebarlah senyuman yang khas untuk menarik para turis, jadilah guide yang ramah menjual bibir yang manis, jadilah biro travel yang memamerkan bibir yang yang menawan, jadilah bibir - bibir yang cerdas yang menjual keunggulan B lainnya seperti : Bunaken, Bisnis Boulevard, Bubur Manado, Bagea, Biapong, Bunga, Batik Bentenan, Bola kaki. Semoga oleh pergaulan seperti itu, nona dan nyong Manado lebih dikenal dan akhirnya semakin banyak menjadi duta di dunia internasional karena “bibir dan brainnya”, sehingga menarik lebih banyak turis datang di Manado yang akhirnya menambah tingkat kesejahteraan hidup masyarakat.


Pdt Arthur R Rumengan MTeol,
Pengamat Sosial - Agama dan Dosen Fakultas Teologi UKIT

sumber : http://www.hariankomentar.com/arsip/arsip_2007/feb_15/opini02baca.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar